AKHIR DARI PERSAHABATAN: EPISODE 3

•••

Pertukaran pelajar selesai,

Setiba di rumah, kulihat Juli sudah berada di rumahku, kurasa ia memang sudah menanti-nanti kedatanganku, dari matanya pun tersirat beribu pertanyaan yang ingin ia katakan padaku. Awalnya ia menanyakan apa kabarku?, apa yang aku lakukan disana? Aku pun teringat yang Rangga bicarakan ditelepon beberapa waktu yang lalu, di saat aku masih di luar kota, yaitu tentang Perasaan Juli padanya. Sebelum aku membuka mulut, ternyata Juli terlebih dahulu membuka mulutnya,

“ Vik, Rangga nembak aku?” katanya padaku, terlihat jelas wajahnya begitu takut mengucapkannya padaku. Dadaku sesak  tiba-tiba,

“apa!’ sentakku begitu tak percaya telah mendengar sesuatu yang tak pernah dan takkan pernah terpikirkan olehku. “terus kamu terima?” tanyaku dengan nada membentak.

“i…iyyaa Vik?” jawab dengan nada agak ragu.

Ya tuhan begitu perih hati ini. Didalam hatiku hanya ada bagaimana perasaan Dimas saat dia tahu. Pertanyaanku pada Juli hanya berakhir sampai disitu, aku tak mau nanti malah aku dikatain cemburu. Jujur aku memang lebih dekat dengan Rangga dibanding Dimas, ya tuhan aku harus berbuat apa? Aku harus mendukung siapa diantara mereka? Apa aku harus memaksa Juli untuk memutuskan hubungannya dengan Rangga. Aku begitu bimbang, aku membayangkan persahabatan yang sudah terjalin sekian jauh, akan hancur diambang mata hanya gara-gara cinta.

Masalah ini membuatku tak bisa memejamkan mataku dan akhirnya memberanikan diriku untuk menghubungi dimas, serasa begitu berat.

“Dim, kamu lagi ngapain?” tanpa tersadar air mataku jatuh dari pelupuk mata, sungguh terasa berat  bagiku, untuk mengatakan hal ini.

“ Lagi istirahat nih. Ada apa Vik? Kamu nangis ya? Ada masalah apa?” ternyata dimas tahu suara senduku.

“ Dim, kamu jangan marah ya?” air mataku semakin membludak.

“ emangnya ada apa?” tambah heran

“Ranggaaaaa…?” aku berat melanjutkan kata-kataku

“iya, ada apa dengan Rangga?” tanyanya semakin heran

Aku mencoba membuka mulut. “ Rangga jadian sama Juli.”ucapku semakin membuat air mataku bercucuran dan tak tertahankan.

“ apa!” jawab Dimas dengan nada begitu geram. “ aku tak percaya, Vik, nggak mungkin? Kamu bohong kan Vik?” Dimas berusaha membela Rangga. “ kamu tahu darimana?” pertanyaan bertubi-tubi ia limpahkan kepadaku.

“ Juli sendiri yang ngomong Dim?” sentakku untuk meyakinkannya. Tapi sungguh berat rasanya.

Dimas pun langsung mematikan teleponku dan berkali-kali ku coba menghubunginya kembali, tapi percuma takkan ada respon darinya. Aku mengerti perasaannya, begitu perih, sang pujaan gati direbut sahabat sejati. Aku tak lagi memikirkan hubungan Juli dan Rangga, yang kupikirkan hanyalah perihnya perasaan Dimas, sakitnya hati Dimas saat ini.

Setelah peristiwa itu, Rangga, Dimas maupun Juli, tak ada satupun yang menghubungiku, berpapasan dengan mereka pun terbilang jarang. Aku sendiri saat melihat Rangga dari kejauhan aku ikut merasakan kebencian yang mendalam seolah-olah aku juga tersakiti. Tiap kali aku bertemu dengannya aku selalu meyakinkan dia bahwa keputusannya itu hanya membuat hancur persahabatan, tetapi apa daya, tak ia hiraukan, tetap saja pura-pura tak tahu. Begitu menyakitkan!

Hari ini tak kusangka, kudapati Juli sudah berada dirumahku, dia menceritakan hubungannya dan Rangga padaku. Disela-sela kegembiraanya aku berkata,

“ dan sekarang persahabatan kami putus?” kataku menyinggungnya

“ini semua pasti salahku, coba saja sejak semula aku tak muncul diantara kalian pasti semuanya kan baik-baik saja!” jawabnya dengan penuh perasaan bersalah. “ tapi itu juga tak sepenuhnya salahku!” sentaknya,

Aku sentak kaget, dan suasana menjadi haru,

“ Vik, selama ini aku menunggu Dimas? Tapi mana? Kata-kata cinta tak pernah ia ucapkan!”

“ tapi kamu tahu kan Dimas itu benar-benar suka sama kamu?” jawbku balik

“tapi sampai kapan aku nunggu dia? Aku pikir dia tak pernah serius” sentak juli berurai air mata.” Rangga duluan ngotot yang suka sama aku?” aku berkata apakah dia tidak menerti perasaan Dimas? Dia hanya menjawab dia akan ambil resiko apapun.

Aku pun terdiam dan membisu,

“ vik, asal kamu tahu? Kemarin Dimas nelpon aku tanpa sepengetahuan Rangga. Dia kecewa padaku, baru saat itu aku  benar-benar tahu kalau dia memang benar-benar suka sama aku. Aku hanya menjawab itu salahnya sendiri, kenapa dia tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan cintanya padaku”. Jelas Juli padaku

“ aku tak tahu lagi harus berbuat dan berkata apa?” jawabku mengelengkan kepala

“ aku pulang dulu” jawab Juli penuh isak meninggalkan rumahku, aku hanya melihatnya yang sedang dilanda kebingungan.

•••

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s