AKHIR DARI PERSAHABATAN: EPISODE 4

•••

Sendiri, aku sendiri berteman sepi,,,,

Sesekali kucoba menghubungi dan mengirimkan sms lucu ke Dimas, tapi sama sekali tidak menimbulkan respon. Begitu juga dengan Rangga, jarang bahkan tak pernah menghubungiku, Juli sekarang juga jarang ku temui, dimanakah mereka berada? Apa yang mereka lakukan sekarang? Begitu banyak pertanyaan yang tersembunyi dalam benakku.

Tak disangka, sore hari Juli datang kerumahku. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia sering dihantui perasaan bersalah, dia meminta saran dariku, semuanya membuatku semakin bingung.

“apa aku harus mengakhiri hubunganku dengan Rangga?” tanyanya padaku

“ hhmmmpp,,ya,,ya itu terserah kamu?” jawabku singkat tapi sesungguhnya itu adalah keputusan yang paling aku tunggu dari hubungan mereka, begitu jahatnya hatiku.

“mungkin ini yang terbaik” jelas Juli, aku tahu dirinya begitu bingung,

Akupun terdiam tapi dalam hatiku berkata seribu bahasa, sesungguhnya dengan mengakhiri hubungan kalianpun itu takkan pernah menjamin persahabatan kami akan kembali. Tiba-tiba hanphone Juli berbunyi dan dia bilang Rangga menghubunginya, mungkin ini saatnya sudah tiba, katanya padaku.

“ honey, ada yang ingin ku bicarakan kepadamu”

“ ada apa Juli?” Rangga bertanya-tanya apakah gerangan juli terlihat begitu serius

“ ga, hubungan kita harus berakhir sampai disini saja!” kata Juli tegas

“ tapi kenapa Juli? Aku sayang kamu, kamupun juga seperti itu bukan?”

“ maka dari itu pintaku, hanya itu hubungan kita tidak bisa lagi untuk diteruskan, ini adalah keputusan terbaik untuk kita berdua dan semuanya dan satu lagi, aku ingin kamu minta maaf ke Dimas, aku mau kalian seperti dulu lagi?” jelas Juli

“ baiklah, jika itu yang kau mau, hubungan kita cukup sampai disini, tapi aku mohon kita kan tetap tuk saling berhubungan satu sama lain. Sekarangpun aku sudah berada di rumah Dimas, kamu percaya bukan?”

Terkejutnya diriku, tapi aku sedikit tak percaya dan curiga, ku lihat wajah juli juga merasakan apa yang kurasa,

“ kamu nggak bohong kan, ga? Tanya Juli tak percaya

“ hah,,,boleh aku ngomong sebentar saja” kataku sambil mengambil handphone Juli. Jujur aku setengah tak percaya, apakah benar Dimas dapat memaafkan Rangga hanya dalam sekejap setelah Rangga menyakitinya, itulah yang membuatku tak percaya. Aku percaya, tapi aku tak yakin kalau Dimas memaafkan Rangga sepenuhnya, mungkin hanya dalam bibir saja, kita takkan pernah tahu apa isi hati Dimas yang sebenarnya, semuanya membuatku penasaran, lebih baik aku menanyakannya sendiri ke Dimas.

“  kamu nggak bohong kan, Ga?” tanyaku pada rangga

“ ya enggak lah Vik, kalau kamu nggak percaya kamu denger nih suara dimas” jelas rangga langsung memberikan handphonenya kepada Dimas

“ Dim? Ini Dimas apa bukan ya? Tanyaku semakin tak percaya

“ Ya, Vik, ini Dimas” jawab Dimas pelan

“benarkah dengan apa yang dikatakan Rangga? Dimas, aku mohon kamu untuk jujur, terutama jujur kepada diri kamu sendiri!” tanyaku

“ bener, Vik? “ jawabnya singkat

“ Dimas, aku mau kamu jujur,!”

“ bener, Vik, tak ada yang untuk dibohongi lagi, maaf aku tak bisa lama-lama karena aku sedang ada kerjaan!” jawab Dimas langsung menyerahkan handphone kepada Rangga.

“ Dim, Dimas!” teriakku, tapi malah rangga yang menjawab sahutanku

“Dimas lagi bantu papanya, Vik, kamu udah percaya kan?

“iya dehh!” jawabku singkat, tapi  masih ada hal yang begitu mengganjal dihatiku, aku belum sepenuhnya percaya, sebelum aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku langsung menyerahkan handphone  Juli padanya, aku tak sanggup lagi mendengar kebohongan ini.

“ makasih ya ga, I Miss U?” juli langsung menutup telepon, dan kulihat air mata yang semula ia tahan kini tak dapat lagi ia tahankan. Aku memeluknya agar bisa menenangkannya, Juli begitu tegar, aku berpikir bila aku jadi dia, entah apa yang akan ku perbuat, disalahkan semua orang, semuanya serba salah, bahkan harus mengorbankan perasaan sendiri.

“ apa kamu yakin dengan keputusan ini?” tanyaku

“ aku sangat yakin, asal kamu tahu Vik? Sebenarnya ini juga demi kebaikan Rangga juga. Karena beberapa hari yang lalu aku mendengar bahwa ada kelompok yang bakal ngeroyokin Rangga. Hanya gara-gara masalah ini”. Jelas Juli padaku. Dadaku begitu sesak, rasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh juli.

“apa?” jawabku sentak kaget, dan tak percaya.

“iya, Vik, makanya hal ini sudah aku pikirkan dengan baik-baik”

Aku hanya mengangguk, Juli pun pergi meninggalkan rumahku, dengan air mata bercucuran.

Aku langsung meronggoh sakuku, untuk mengambil handphoneku, aku menghubungi Rangga. Tapi aku tak bisa berkata apa- apa aku hanya bisa berkata, “ hati-hati ya ga?” kataku padanya singkat, langsung q matikan handphoneku, aku tahu pasti diapun tak mengerti dengan apa yang ku ucapkan, dia berkali-kali menghubungiku kembali, tapi tak ku angkat, karena aku tak tahu akan berkata apa lagi padanya. Jikalau aku mengatakannya padanya tentang sebenarnya, malah akan menimbulkan masalah baru, yaitu Rangga akan membenci Dimas. Lebih baik aku diam saja.

•••

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s