Putri, jangan berkhayal lagi! part 2

Malam pertama di villa, aku dan fikri berjalan disekitar villa, menikmati suasana malam yang sunyi, hanya ada suara angin yang berhembus serta suara hewan-hewan malam. Dinginnya suasana bogor tak mampu menghalangi niat kami, semua semakin terasa indah dengan taburan bintang diantara langit. Sungguh sempurna, jarang ditemukan saat berada di Jakarta. Ditepi danau kami merebahkan badan diantara rerumputan, menatap langit nan luas, sungguh ciptaan yang luar biasa oleh Sang Esa. Menikamati pantulan bulan di atas danau.
Tiba-tiba datang peri-peri kecil, mereka menari diatas kami. Mereka menari bebas, lenggak-lenggok kesana kemari layaknya penari balet. Peri-peri itu seperti memantulkan cahaya warna-warni, kadang cahayanya diam sesaat, kemudian menghilang, kemudian muncul cahaya lagi. Tarian malam yang indah, mungkin puluhan peri-peri kecil itu tak pernah kelelahan untuk menari, memperlihatkan tarian indah mereka pada kami, manusia yang bertubuh besar.
“hey, dari tadi bengong??”kata Fikri mengejutkanku dan tentunya menghancurkan imajinasiku. “Tuh liat kunang-kunang banyak banget, diatas danau. Coba kamu liat pantulannya diair, keren banget.”
“he-eh, keren banget, kayak peri-peri malam yang menari diatas air, memantulkan cahaya. Menari kesana kemari.” Aku tersenyum puas.
“kamu berkhayal mulu deh?? Mana ada peri-peri didunia? Itu hanya ada didunia dongeng serta dunia khayal kamu! Hahahaha.” Fikri tertawa
“terserah donk, mau bilang apa?” jawabku membela diri.
“eh, put, kamu itu udah gede put, udah seorang mahasiswa? Bukan anak TK yang sering memainkan imajinasi mereka. Dasar anak kecil! Hehehe” fikri mengusap-usap kepalaku
Aku hanya mencibirkan bibirku. Sebel, dikatain anak kecil mulu? Emangnya apa sih salahku? Apa sampai sekarang aku belumpunya pacar? Apa aku tipe cewek yang menunggu diselamtakan seorang pangeran? Biarlah, karena aku menikmati hidupku. “yuk pulang, udah malem, ngantuk nih, capek!” kataku.
“ayuk!!”
Kami meninggalkan danau. dan Terciptalah keheningan alami. Selamat tinggal peri, kataku dalam hati.
•••
Aku sedang berada di…. tunggu sepertinya ini mimpi ku kemarin, kok kenapa aku masih disini??? Kulihat pangeran sudah membujur kaku, pangeran ingin menyelamatkan aku, tapi…pangeran, apakah dia telah mati, aku gundah. Perampok itu kembali mendekatiku.
“hahahahaha, menyerahlah kau gadis malang? Pangeranmu itupun tak mampu menyelamatkanmu. Lebih baik aku membawamu, daripada membawa pangeran itu, pangeran lemah yang tak berguna. Cuihh!!”
“baiklah, biarkan dia hidup dan tinggalkan dia disini. Bawalah aku!” kataku, aku tak menyangka aku bisa berkata seperti itu. Tapi itu sudah terlanjur kataku dalam hati. Setidaknya kehidupan pangeran lebih dibutukan dari kehidupanku.
Perampok itu membawaku kemarkas mereka. Menggunakan kereta kuda yang mungkin mereka dapatkan dari hasil merampok. Markas mereka yang pengap, berdebu, seperti rumah penyihir jahat dalam dongeng. Tanganku diikat, aku tak bisa apa-apa. Mulut ku dibekap, merontapun percuma. Aku pasrah apa yang akan terjadi padaku, walaupun beribu bayangan buruk menghantuiku, jangan sampai aku memperlihakan ketakutanku pada mereka.
Tok…tok..tok…aku mendengar bunyi ketuakn pintu. Siapakah itu? Apakah pangeran datang kembali untuk menyelamatkanku? Aku sangat berharap itu.
“woy, bangun neng?? Udah jam 7,,,,putriiiiiiiii.”teriak fikri dari balik pintu.
Aku terbangun,,,padahal tadi itu bagian mimpi yang aku tunggu-tunggu. Sialan si Fikri. “iya, udah bangun kok.” Aku membela, malu banget, padahal aku ngga pernah bangun sampe jam segini. Aku langsung membuka pintu, niat untuk mandi ku urangkan. Karena airnya dinginj banget, ngga tahan, kudapati seisi rumah sudah kosong, kemana ni orang pikirku. Dan akhirnya kudapati Fikri sedang berada diteras sambil mencuci mobilnya.
“tante, sama yang lain kemana Fik? Kok ngga kliatan?” tanyaku
“kerumah bu’de” kata fikri yang masih saja nyemprotin air ke mobilnya.
“kok ngga ngajak kita?” tanyaku heran.
“tadinya sih gitu, tapi karena kamu bangun aja belom, mereka aja yang pergi. Aku disuruh dirumah aja sama kamu?”jawabnya kesal.
“o,, sorry deh, aku juga sebenarnya jarang-jarang lo bangun kayak gini? Heheh.” Kataku sambil nyengir.
“pasti blom mandi? Iya kan?”
“hehe, dingin banget” alasanku
“mandi gih, bau tau?”
“entar aja, dingin tahu!”
“apa mau aku yang mandiin?” kata fikri sambil menyodorkan selang air padaku
“coba aja kalo bisa”tantangku.
Ternyata secepat kilat Fikri mengayunkan selang air kearahku, untung masih bisa aku hindari. Hahaha… bukan aku yang kena tapi malah dia sendiri yang kena. Segera Fikri menyusun strategi, dia mengejarku, ia meluncurkan serangan, ribuan anak panah menuju kearahku, mengenai punggungku, kini aku cidera, tapi aku masih bisa berdiri. Kuambil selang lagi, karena ternyata ada dua selang, yang satu telah dipegang Fikri, dan satunya sekarang berada di tanganku, saatnya melakukan ajang balas dendam. Serangan fikri tak dapat lagi kuhindari, dan tentunya Fikri juga tak mampu lagi menghindari seranganku, karena jarak kami kurang lebih setengah meter. Terlihat kami sedang dalam keadaan berimbang, seluruh tubuh kami basah total, rasa dinginpun tak menghalangi niat kami, untuk tetap saling menyemprotkan air kearah lawan. Hingga akhirnya air dari selang tak lagi keluar. Kami tertawa terbahak-bahak, mendapati tubuh kami yang penuh lecak. Tampaknya diantara kami berdua tak ada yang menang dan tak ada yang kalah, kami seri.
“akhirnya, aku bisa bikin kamu mandi.” Kata Fikri sambil tertawa.”aku menang!”
“o, tidak bisa? Kamu aku berhasil membuat keadaanmu untu mandi lagi?” balasku. “kita seri!”
“aku yang menang!” fikri tak terima
“seri! Kita seri!, aku ngga mau kalah” aku mencibir kearah Fikri
“pokoknya aku menang, udah cepetan gih mandi, mau jalan-jalan ngga?” rayu Fikri
“,,,,,huuuu,,,,” sorakku, sambil meninggalkan Fikri, menuju kamar mandi, ya mau gimana lagi, kondisi badan udah basah kuyup. Brrrrrrr.
Bersambung……
_duniasulis_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s